Senin, 08 Oktober 2012

MAKALAH AKIDAH AKHLAK


BAB I
PENDAHULUAN
AYAT-AYAT MUHKAMAT DAN AYAT-AYAT MUTASYABIHAT

1.1.  Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan perkataan Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril untuk menjadi petunjuk bagi umat manusia. Al-Qur’an terdiri dari 30 juz,114 surat dan 6.666 ayat. Dalam 6.666 ayat ini memiliki pemaknaan yang berbeda, oleh karena itu ayat-ayat dalam Al-Qur’an di bedakan kepada dua jenis, yaitu ayat-ayat mutasyabihat dan ayat-ayat muhkamat

Kita sebagai umat muslim secara umum dan pelajar muslim secara khususnya perlu mengetahui jenis surat dalam kitab suci kita ini. Untuk memudahkan kita memilah dan memahami isi Al-Qur’an. Sehingga fungsi Al-Qur’an bisa kita manfaatkan dalam kehidupan kita sehari-hari dan harapan hidup bahagia dunia akhirat  dapat kita raih.

Selain itu yang melatar belakangi pembuatan karya ilmiah ini adalah untuk memaksimalkan proses belajar mengajar pada bidang studi Akidah Akhlak yang menggunakan metode diskusi.

1.2.  Rumusan Masalah
Rumusan masalah makalah ini adalah      :
(1.2.1)  Apakah pengertian dari ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat?
(1.2.2)  baaimanakah cara pandang dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat?
(1.2.3)  Seperti apakah contoh dari ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat?


1.3.  Pembatasan Masalah
Makalah ini hanya akan membahas          :
(1.3.1)    Pengertian ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat
(1.3.2)    Cara pandang dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat

1.4.  Tujuan
Karya ilmiah ini bertujuan untuk             :
(1.4.1)   Mengetahui pengertian dari ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat
(1.4.2)   Mengetahui cara pandang dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat
(1.4.3)   Memaksimalkan pembelajaran bidang studi Akidah Akhlak


























BAB II
AYAT-AYAT MUHKAMAT DAN AYAT-AYAT MUTASYABIHAT

2.1.Pengertian Ayat-Ayat Muhkamat
Al-Qur’an merupakan kitab suci umat islam. Kalamullah ini menjadi petunjuk bagi umat manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan diakhirat. Namun untuk mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an ini, tentunya kita harus membaca dan memahami arti serta makna yang terkandung di dalam setiap lafas dan ayat dari Al-Qur’an tersebut.

Perlu diketahui sebelumnya,bahwa secara sederhana ayat-ayat Al-Qur’an terbagi menjadi dua macam, yaitu ayat–ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat. Pembagian jenis dari ayat-ayat Al-Qur’an ini berdasarkan kepada surat Huud ayat 1,surat Az Zumar ayat 23 dan surat Ali Imran.
 Ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang jelas makna dan pengaertiannya. Dengan kejelasan makna dan pengertian ayat ini jauh dari perdebatan

2.2.PENGERTIAN AYAT-AYAT  MUTASYABIHAT
Di dalam Al-Qur’an juga terdapat ayat-ayat mutasyabihat. Ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang makna dan pengertiannya interpretable karena mengandung lebih dari satu pengertian yang mungkin benar semuanya,sehingga timbul berbagai pendapat di kalangan para ahli tafsir.

Karena makna dan pengertiannya interpretable,membutuhkan intelektual yang cerdas dan pemikiran yang matang serta ijtihatd yang mendalam guna memahami ayat-ayat mutasyabihat ini. Itu artinya tidak semua orang bisa memahami ayat Al-Qur’an dengan mudah,ada ayat-ayat tertentu yang membutuhkan otoritas-otoritas tertentu pula dalam memahami redaksional Al-Qur’an. Ayat mutasyabihat ini hanya dapat dipahami oleh ’ar’rasikhuna fi’l ilmi’

2.3.CARA PANDANG DALAM MEMAHAMI
 AYAT-AYAT MUTASYABIHAT

Menurut Prof.Dr.Sayid Ahmad Musayyar dalam bukunya yang berjudul Al-Ilahiyat fi’l Aqidah Al-Islamiyah menuliskan empat cara pandang dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat di kalangan ulama islam, yaitu sebagai berikut:

1.At’Tafwidh
At’Tafwidh adalah menyerahkan segalanya kepada Allah. Cara pandang yang pertama ini cenderung digunakan oleh mayoritas ulama klasik (salaf). Sebagai contoh surat Taha ayat 5 yang berbicara mengenai persemayamam Allah SWT di atas Arsy

 Disini para ulama klasik memahami ayat tersebut sebagaimana adanya,artinya Allah SWT bersemayam di atas Arsy. Megenai persemayaman Allah tidak dapat diketahui,melainkan hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Hal ini sesuai dengan catatan Ibnu Khaldun yang mengatakan bahwasanya madzhab ulama klasik dalam memahami ayat mutasyabihat adalah menyerahkan segalanya kepada Allah SWT dan tidak berkomentar mengenai maksud dari ayat tersebut. Biasanya kelompok ini mengatakan perihal ayat mutasyabihat dengan kalimat”hanya Allah yang tahu maksudnya”

2.At’Tasybih
At’Tasybih menurut bahasa adalah penyerupaan atau antropomorfisme,maksudnya adalah menyerupakan Allah SWT sebagaimana ciptaan-nya. Mereka yang memiliki paradigma tasyhbih ini hanya bersandar pada teks-teks ayat yang termaktub dan menafsirkannya secara literal saja,alasan mereka karena Al-Qur’an turun dengan bahasa arab yang jelas. Jadi, cukuplah dengan melihat makna literal ayat dalam memahami ayat mutasyabihat

Ada sekelompok ulama yang berpandangan bahwa metode tasybih ini sangat beresiko buruk bahkan bisa terjerumus dalam kekafiran,yakni penyerupaan Khalik dengan makhluk

3.At’Ta’wil
At’Ta’wil adalah pemberian pengertian atas fakta-fakta tekstual dari sumber-sumber suci (Al-Qur’an dan Sunnah) sedemikian rupa,sehingga yang diperlihatkan bukanlah makna yang sebenarnya (hakikat) melainkan makna majazi.Cara pandang yang ketiga inilah yang sering di sebut dengan interpretasi metaforis.

Maka para ahli ta’wil beranggapan bahwa mereka (ahli tasybih) belum memahami bahasa Arab dengan benar,karena dalam bahasa Arab ada makna yang hakikat dan makna majasi.

4.Al-itsbat bi’d Dlawabith
Al-itsbat bi’d dlawabith adalah menetapkan apa yang telah termaktub dalam Al-Qur’an. Imam Abu Hanifah dalam kitab Al-Fiqih Al-akbar mengatakan bahwasanya Allah mempunyai tangan,wajah dan jiwa,sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan tidak tergambarkan dalam benak ciptaan-ciptaan-Nya (manusia).

Gambaran sederhana dari keempat metode di atas sebagai berikut,misalnya redaksional dari ayat Al-Qur’an,surat Al-Fath ayat 10 yang berbunyi:”Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka”

Ahli Tafwild mengatakan,hanya Allah SWT yang tahu maksudnya,kita tidak boleh menafikannya,juga janganlah berpandangan bahwa ayat tersebut bermakna majasi ataupun hakiki.

Ahli Tasybih berpandangan bahwa Tangan Allah sama seperti tangan manusia,karena secara bahasa Tangan adalah tangan,dan dalam gambaran akal tangan manusia lebih rasional untuk digambarkan menjadi Tangan Allah.

Ahli Ta’wil berpandangan bahwa Tangan Allah di sana adalah kalimat majasi yang artinya adalah kekuasaan Allah,ahli Ta’wil ini tidak mengartikan ayat tersebut secara leterlek akan tetapi ada kalimat-kalimat dalam bahasa Arab yang memiliki makna majas.
Ahli It’sbat berpandangan bahwa Allah memiliki Tangan sebagaimana ditetapkan di dalam Al-Qur’an  dan tidak mengatakan hanya Allah yang tahu maksudnya ,tangan Allah seperti tangan manusia atau tangan Allah adalah kekuasaan Allah.

Dari keempat cara pandang di atas hanya tiga metode saja yang dapat kita jadikan sandaran untuk memahami ayat-ayat mutasyabihat, yakni Tafwild,Ta’wil dan Itsbat. Sedangkan cara pandang tasybih sangat tidak relevan jika dijadikan pegangan.





















BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Ayat-ayat dalam Al-Qur’an berdasarkan makna dan pengertiannya terbagi dua,yaitu ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat.
2. Kita tidak boleh sembarangan dalam memaknai atau menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat
3.Cara pandang dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat ada empat, yaitu Tafwild,Tasybih,Ta’wil,dan It’sbat.
4.Cara pandang yang boleh digunakan dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat hanya tiga,yaitu Tafwild,Ta’wil dan It’sbat

3.2 SARAN
Kami menyarankan :
1.      Sebaiknya kita memperdalam bahasa Arab untuk memudahkan dalam memahami Al-Qur’an
2.      Sebaiknya kita menggunakan cara pandang Tafwild,Ta’wil dan It’sbat dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat.











DAFTAR PUSTAKA

Sulaiman dan Affandi Bakhtiar Akhlak-Ilmu Tauhid.CV.Talimas.Jakarta 1985








































MATA PELAJARAN : AKIDAH AKHLAK
GURU PEMBIMBIN  : MUKHLIS S.Ag


MAKALAH

AYAT­­-AYAT MUTASYABIHAT
DAN MUHKAMAT



 






                                                                                                        



DISUSUN OLEH KELOMPOK I :

1.    SUSDAMITA
2.    RIFKI NALDI
3.    RAHMANILA
4.    YUSRIZAL FILKA






MADRASAH ALIYAH NEGERI KUOK
KEC. BANGKINAG BARAT
KAB. KAMPAR
T.P. 2009 – 2010





KATA PENGANTAR
       
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT berkat karunia dan hidayahNya, penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah yang bertema ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat
Al-Qur’an merupakan perkataan Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril untuk menjadi petunjuk bagi umat manusia. Al-Qur’an terdiri dari 30 juz,114 surat dan 6.666 ayat. Dalam 6.666 ayat ini memiliki pemaknaan yang berbeda, oleh karena itu ayat-ayat dalam Al-Qur’an di bedakan kepada dua jenis, yaitu ayat-ayat mutasyabihat dan ayat-ayat muhkamat

Kita sebagai umat muslim secara umum dan pelajar muslim secara khususnya perlu mengetahui jenis surat dalam kitab suci kita ini. Untuk memudahkan kita memilah dan memahami isi Al-Qur’an. Sehingga fungsi Al-Qur’an bisa kita manfaatkan dalam kehidupan kita sehari-hari dan harapan hidup bahagia dunia akhirat  dapat kita raih.

Terakhir penulis meminta maaf jika dalam penulisan makalah ini terdapat kesalahan-kesalahan.
wassalam

   30 september 2010

Penulis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar