Senin, 08 Oktober 2012

PENGARUH EKONOMI TERHADAP PUTUSNYA SEKOLAH ANAK (FOR MAN EKSPO)



BAB I
PENDAHULUAN
PENGARUH EKONOMI TERHADAP PUTUSNYA SEKOLAH ANAK

1.1.  Latar Belakang

Pendidikan merupakan kebutuhan manusia. Setiap individu yang dilahirkan ke dunia memerlukan pendidikan untuk menjalankan kehidupan dengan baik dan berguna bagi nusa dan bangsa. Serta kehidupan yang layak dan bermutu dapat dicapai. Langkah awal kita untuk bisa menghadapi kehidupan kedepan dan memenuhi tuntutan zaman adalah belajar dengan baik dan benar.

Belajar dilakukan oleh setiap orang dari awal-awal kehidupan, seperti belajar merangkak dan belajar berjalan serta belajar berbicara. Ini merupakan proses pembelajaran awal yang terjadi,dialami dan dilakukan di lingkungan keluarga. Ini akan terus berlanjut sampai seorang anak memiliki pola pikir yang baik.

Setelah pemikiran seorang anak berkembang, maka anak akan mulai menerapkan didikan yang didapatnya dari kalangan keluarga yang diberikan oleh ayah, ibu dan kakak-kakaknya. Tidak semua ilmu pengetahua yang bisa diberikan oleh keluarga kepada anak. Anak membutuhkan ilmu pengetahuan yang lebih untuk bisa menjalani kehidupan dengan baik nantinya. Mengingat pentingnya ilmu pengetahuan dan keterbatasan pihak keluarga dalam memberikan ilmu pengetahuan, maka para orang tua melanjutkan pendidikan anaknya dari pendidikan non formal kepada pendidikan formal yaitu dengan memasukkan anaknya ke dalam lembaga pendidikan formal sepaerti sekolah.

Pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyaraka yang memiliki produktifitas yang tinggi. Namun pada hakekatnya pendidikan tidak dapat dilepaskan dari  masalah ekonomi,baik secara langsung mupun secara tidak langsung

Di Kecematan Bangkinang Barat, Anak dari masyarakatnya ada yang sekolah di sekolah yang ada di Kecamatan Bangkinang Barat dan ada juga yang sekolah diluar Kecamatan Bangkinang Barat. Namun tidak sedikit pula anak yang harus meninggalkan proses dan aktivitas pendidikan formal mereka. Ini tidak terjadi tanpa sebab,tentunya ada alasan-alasan dan faktor-faktor tertentu yang melatar belakanginnya.

Putus sekolah merupakan masalah yang sangat penting untuk dibicarakan dan dicari jalan keluarnya. Permasalahannya putus sekolah di Indonesia bukan masalah kecil. Sebagaimana kita ketahui bersama, jumlah anak yang putus sekolah di Indonesia dewasa ini angkanya tidak puluhan orang tetapi sudah mencapai ribuan orang, ini bukan angka yang kecil. Dalam penyelesaian masalah anak putus sekolah ini, bukanlah tanggung jawab satu, dua orang atau suatu instansi saja. Tetapi semua orang dan semua lembaga bertanggung jawab pada masalah ini. Jika masalah anak putus sekolah ini tidak ditangani dengan cepat dan tepat, maka akan berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia dan sosial bangsa pun akan terganggu.

Dengan banyaknya anak putus sekolah akan berdampak kepada pengangguran karena kemampuan yang dimiliki anak putus sekolah tersebut tidak mencukupi untuk mengisi lapangan pekerjaan yang semakin canggih dan membutuhkan keahlian khusus. Maka, angka pengangguran pun akan bertambah. Jadi, bagaimana Indonesia bisa dan mampu bersaing dengan Negara-negara maju, sedangkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia masih jauh ketinggalan dari Negara-negara maju.

Selain itu, anak-anak yang putus sekolah yang akhirnya menganggur akan semakin didesak oleh kebutuhan hidup yang terus meningkat, yang mendorong untuk bertindak kriminalitas seperti pencurian, perampokan, pembunuhan dan lain-lain. Yang membuat masyarakat menjadi terganggu dan ketentraman yang telah terjalin ditengah-tengah masyarakat akan hilang.

1.2.  Rumusan Masalah
Rumusan masalah makalah ini adalah      :
(1.2.1)  Apakah faktor penyebab anak putus sekolah di Kecamatan Bangkinang Barat?
(1.2.2)  Apa dampak yang diakibatkan oleh anak yang putus sekolah tersebut?


1.3.  Pembatasan Masalah
Makalah ini hanya akan membahas          :
(1.3.1)    Faktor penyebab anak putus sekolah di Kecamatan Bangkinang Barat
(1.3.2)    Dampak yang diakibatkan anak yang putus sekolah di Kecematan Bangkinang Barat

1.4.  Tujuan
Karya ilmiah ini bertujuan untuk             :
(1.4.1)   Mengetahui faktor penyebab anak putus sekolah di Kecamatan  Bangkinang Barat
(1.4.2)   Mengetahui dampak yang diakibatkan anak yang putus sekolah di Kecamatan Bangkinang Barat
(1.4.3)   Mengetahui langkah yang tepat untuk mengatasi masalah anak putus sekolah di Kecamatan Bangkinang Barat

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Putus Sekolah

Pendidikan merupakan kebutuhan setiap orang. Setiap individu di dunia ini memerlukan pendidikan untuk menjalankan kehidupan yang lebih baik. Setiap anak yang terlahir ke dunia, mereka belajar. Belajar mulai dari hal-hal yang kecil sampai hal-hal yang besar.

Setelah menginjak usia balita, anak mulai membutuhkan pendidikan non formal dan formal. Pendidikan non formal adalah pendidikan yang bersumber dari keluarga, masyarakat dan lingkungan. Pendidikan non formal diperoleh oleh seorang anak secara gratis dan tanpa diminta pun seorang anak pasti akan mendapatkannya. Yaitu  pendidikan yag diberikan oleh ayah,ibu dan kakak-kakanya serta orang yang berada di sekitar tempat tinggalnya. Berbeda dengan pendidikan formal. Pedidikan formal adalah pendidikan yang diperoleh oleh seorang dari lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah.

Pendidikan dapat diartikan sebagai perbuatan mendidik, pengetahuan tentang mendidik. Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dan budaya masyarakat.

Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses timbal balik dari pribadi-pribadi manusia dalam menyesuaikan diri dengan manusia lain dan dengan alam semesta. Sedangkan pengertian sekolah menurut WJS. Poerwodarmita adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan memberi pelajaran.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa pengertian putus sekolah adalah seseorang yang telah masuk dalam sebuah lembaga pendidikan baik itu diingkat sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), maupun Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk belajar dan menerima pelajaran, tetapi tidak menyelesaikan pendidikannya atau tidak sampai lulus kemudian mereka berhenti atau keluar dari sekolah.

Pengertian putus sekolah dapat pula diartikan sebagai Droup-Out (DO) yang artinya bahwa seorang anak didik yang karena sesuatu hal biasa disebabkan karena malu, malas, takut, sekedar ikut-ikutan dengan temannya atau karena alasa lain sehingga mereka keluar dari sekolah dan tidak masuk lagi untuk selama-lamanya.


BAB III
PROSES PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan wawancara serta mengambil data dari pihak terkait.

Responden yag tepilih adalah responden yang memenuhi syarat, antara lain: tinggal di Bangkiang Barat, pelajar SMP/SMA yang putus sekolah. Pemilihan responden dilakulan secara acak dan meliputi berbagai lapisan, yaitu: pelajar SMP swasta dan pelajar MA Negeri/sederajat, pendidik/guru, orang tua, dan masyarakat.

3.1. lokasi Penelitian
Pengambilan lokasi responden dilakukan secara acak meliputi SMP Muhammadiyah Kuok, SMA Negeri I Bangkinang Barat, Madrasah Aliyah Negeri Kuok, SD Negeri 002 Kuok, SD Negeri 018 Kuok, masyarakat setempat,

3.2. Cara Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan dengan cara            :
(3.2.1)  Observasi ke sekolah-sekolah
(3.2.2)  wawancara dengan responden
(3.2.3)   Mengambil data mutasi dari sekolah-sekolah

3.3. Cara Menganalisis Data

Analisis data dilakukan dengan cara mengelompokkan hasil wawancara faktor anak putus sekolah kepada tiga faktor, yaitu faktor ekonomi, faktor lingkungan , dan faktor pribadi.


BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.2. Faktor Penyebab Anak Putus Sekolah

Pendidikan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia yang sekaligus dapat membedakan antara manusia dan hewan. Hewan juga belajar tapi lebih ditentukan oleh instinknya. Sedangkan bagi manusia belajar berarti rangkaian kegiatan menuju pendewasaan, guna mencapai kehidupan yang lebih kita kenal dengan istilah sekolah. Sekolah adalah bagian dari suatu aktivitas yang sadar akan tujuan. Sekolah dalam hal ini  pendidikan menempati posisi yang sangat sentral dan strategis dalam membangun kehidupan secara tepat dan terhormat.

Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu keharusan bagi setiap manusia secara keseluruhan. Setiap manusia berhak mendapatkan atau memperoleh pendidikan, baik secara formal, informal maupun non formal. Sehingga nantinya ia akan memiliki mental, akhlak, moral dan fisik yang kuat serta menjadi manusia yang berbudaya tinggi dalam melaksanakan tugas, kewajiban dan tanggung jawabnya dalam masyarakat.

Namun jika kita lihat dari kenyataan dalam pelaksanaannya khususnya dikecamatan Bangkinang Barat banyak anak-anak remaja yang putus sekolah, dengan berbagai faktor penyebabnya.

Berdasarkan keterangan ibu Mardalisar. SPd salah seorang guru di Madrasah Aliyah Negeri Kuok mengatakan “bahwa seorang anak putus sekolah disebabkan oleh 3 faktor yaitu:

4.1.1 Faktor Ekonomi

Berdasarkan keterangan dari pihak sekolah yang di survei,diketahuilah bahwa profesi orang tua siswa dan siswi yang bersekolah di Kecematan Bangkinang Barat yaitu terdiri dari profesi Tani,Pedagang,Pegawai Negeri Sipil (PNS),Nelayan dan Penggali. Berikut persentase profesi orang tua siswa dan siswi yang bersekolah di Kecamatan Bangkinang Barat yang sekaligus menjadi masyarakat Kecamatan Bangkinang Barat.
           
No
PROFESI
PERSENTASE
1
TANI
80%
2
PEDAGANG
10%
3
PNS
 5%
4
PETERNAK
2,5%
5
PENGGALI
2,5%

Berdasarkan data diatas kita bisa melihat dan mengetahui mata pencaharian yang mayoritas pada masyarakat Bangkinang Barat adalah petani dengan 80%. Yang terdiri dari petni karet,petani sayur,petani sawit,dan berkebun.

Masyarakat yang berfrofesi sebagai petani karet akhir –akhir ini semakin kesulitan akibat krisis global. Selain harga barang-barang untuk kebutuhan sehari-hari yang semakin meningkat.pada peteni karet,harga jual karet menjadi turun sampai Rp 3.000,00 perkilonya, denagan harga seperti ini membuat satu-satunya penghasilan mereka tidak bisa lagi menompang kebutuhan hidup mereka secara maksimal. Jangankan untuk biaya pendidikan anak-anak mereka,biaya untuk kebutuhan sahari-hari saja mereka sudah kesulitan. Walaupun sekarang harga karet sudah mencapai Rp.11.000,00 perkilonya. Namun ini belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat. Dan juga luas perkebunan karet yang mereka kerjakan bukanlah berhektar-hektar,tetapi hanya beberapa bidang yang tidak terlalu luas. 

Untuk mendapatkan hasil yang lebih besar diperlukan pekerjaan dan tenaga yang lebih besar pula,tidak cukup dengan tenaga ayah dan ibu saja. Untuk itu orang tua tersebut membutuhkan tambahan orang untuk memebantu mereka bekerja. Dalam hal ini mereka tidak mengambil pekerja dari orang luar  yang sedang mencari pekerjaan,melainkan mereka mengambil tenaga dari anak-anak mereka. Karna kalau mereka mengambil tenaga dari luar keluarga maka diperlukan lagi dana untuk membayar upah orang tersebut,padahal kondisi keuangan terus menurun. Tetapi kalau pekerjaannya di bantu oleh pekerja dari anggota keluarga,maka tidak perlu digaji. Sehingga pemasukan keuangan bertambah tanpa harus mengeluarkan dana seperti mengambil tenaga pekerja dari luar keluarga

Dengan adanya orang tua yang mengambil tenaga pekerja dari anaknya untuk memenuhi kebutuhan keluarga,maka sekolah anak akan terganggu,seperti tidak semngatnya anak dalam belajar disekolah akibat kelelahan karna bekerja.

Tidak hanya akibat krisis global yang membuat pendapatan petani karet menurun. Faktor lainnya adalah cuaca. Sebagaimana kita ketahui semenjak petengahan bulan  Agustus cuaca di Kecamatan Bangkinang Barat khususnya dan Indonesia umumnya adalah hujan,dan cuaca hujan ini terus berlanjut sampai sekarang. Dengan keadaan cuaca sepaerti ini petani karet tidak bisa memproduksi karetnya secara maksimal seperti hari-hari yang bercuaca cerah.

Pada petani sayur,yidak jauh berbeda dengan petani karet. Di mana kedua profesi ini bergantung pada cuaca. Petani sayur, tidak bisa mendapatkan hasil sayur  yang maksimal karna cuaca yang sering hujan membuat sayur-sayur mereka rusak. Seperti membusuknya bibit karna terlalu banyak air dan pada sayur yang sudah hampir siap panen  mengalami bercak-bercak pada daunnya sehingga tidak semua sayur yang bisa dijual. Sehingga membuat pendapatan petani sayur menurun.

Petani sawit juga menerima dampak dari krisis global,dimana harga sawit menjadi Rp.300.00 perkilonya. Ini akan berdampak buruk pada keluarga dan pendidikan anank-anak mereka.  

 Profesi pedagang dengan 10% juga menurun,ini di sebabkan karna pendapatan para petani menurun yang menyebabkan daya beli masyarakat juga menurun. Masyarakat mengutamakan membeli bahan-bahan pokok dan juga membatasi pembelian untuk menghemat pendanaan dalam keluarga.

Profesi peternak dengan 2,5%, bidang pekerjaan ini pendapatannya juga menurun karna daya beli masyarakat menurun   sehingga para peagang daging di pasar tidak banyak membutuhkan ternak. Namun, sekarang harga beli sudah kembali normal.

Profesi penggali dengan 2,5% disini adalah penggali batu sungai.dengan cuaca yang terus menerus hujan juga terkendala. Dimana tempat mereka mencari nafkah yaitu sungai kampar mengalami pasang. Sehingga mereka tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Penduduk yang berprofesi sebagai penggali batu ini kembali beraktivitas setelah air sungai surut. Batu di tempat penggalian pun bertumpuk akibat terbawa arus sewaktu air sungai pasang. Sehingga hal seperti ini dimanfaatkan dengan baik oleh para penggali. Berhubung penggalian dilakukan dengan tenaga manusia dan alat sederhana maka untuk mengumpulkan batu-batu lebih banyak. Membutuhkan pekerja yang lebih banyak. Disini mereka juga mengajak anak-anak mereka untuk bersama-sama menggali.

Walaupun ada kemampuan untuk menggunakan alat berat dalam kegiatan penggalian. Namun,hal ini tidak di izinkan oleh masyarakat karena jika menggunakan alat berat dalam kegiatan penggalian maka akan mengakibatkan kerusakan lingkungan dan tempat penggalian tersebut tidak bisa dimanfaatkan lagi oleh generasi berikutnya. Jangankan untuk menggunakan alat berat dalam kegiatan penggalian, memperkejakan orang dari masyarakat luar saja tidak diperbolehkan. Penggalian yang berada di Pulau Belimbng I ini dikhususkan untuk penduduk asli Bangkinang Barat  dan di usahakan oleh perorangan tidak boleh menggunakan sistem karyawan. Ini dilakukan untuk menjaga penghasilan penduduk asli Bangkinang Barat.

Walaupun demikian profesi penggalian ini tidak bisa menjamin penghasilan masyarakat kedepanya. Karna penggalian secara terus-menerus selain merusak fisik sungai seperti terbentuknya kawah-kawah di tengah sungai,batu-batu tersebut akan makin berkurang. Untuk perbaikan  membutuhkan waktu yang lama.

Dengan keadaan perekonomian masyarakat di Kecamatan Bangkinang Barat ini tidak sedikit yang menjadi faktor anak putus sekolah, selain penghasilan yang tidak menetap. Jumlah anak yang ditanggung orang tua tidak seperti diperkotaan yang hanya satu atau dua orang. Kebanyakan setiap keluarga memiliki anak yang banyak. Sehingga pendapatan yang tidak menetap,tidak mampu membiayai semua biaya pendidikan anak mereka yang berakibat tidak semua anak mendapatkan pendidikan formal secara maksimal. Sehingga anak yang sedang menuntut ilmu dilembaga pendidikan terpaksa meninggalkan sekolah atau keluar dari sekolah.

Setelah itu mereka membantu orang tuanya mencari nafkah, seperti membantu orang tua menyadap karet,mengurus peternakan orang tuanya dan ada juga yang mencari pekerjaan sesuai dengan kemampuan dan keahlian mereka. Seperti ada yang bekerja di tempat-tempat pembuatan perabot,perbengkelan motor dan bekerja dengan pemilik barang dagangan. Ini mereka lakukan untuk membantu perekonomian keluarga,baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Membantu perekonomian secara langsung yaitu dengan memberikan uang hasil pekerjaannya kepada orang tuanya. Membantu perekonomian scara tidak langsung yaitu penghasilan mereka digunakan untuk keperluan pribadi mereka sehingga tidak membebani orang tua mereka lagi. 

4.1.2 Faktor Lingkungan

Pendidikan yang diterima seorang anak sebelum memasuki pendidikan formal adalah pendidikan non formal yang bersumber dan keluarga dan lingkungan masyarakat, disinilah awal pembentukan karakter dan kepribadian anak. Namun, tidak semua lingkungan yang mendukung pendidikan anak. Ada lingkungan yang memberi pengaruh negatif kepada anak yang mengganggu proses pembelajaran anak di sekolah.

Pengaruh negatif dari lingkungan banyak yang menyebabkan anak putus sekolah. Lingkungan tersebut adalah :

a.       lingkungan keluarga

keluarga merupakan lingkungan yang pertama kali ditemui oleh setiap individu. Semenjak seorang anak dilahirkan hingga mencapai usia sekolah, keluargalah yang paling sering ditemui. Didalam keluarga inilah pembentukan karakter dan kepribadian seorang anak. Karakter yang telah ada tersebut dibawa seorang anak ke lingkungan luar,sepeti lingkungan masyarakat,termasuk lembaga pendidikan.

Pada keluarga yang kurang harmonis atau tidak harmonis, anak tidak bisa tumbuh dan berkembang secara baik. Baik secara fisik mupun secara psikologis. sehingga anak tumbuh menjadi anak yang nakal. Disekolah, anak yang tumbuh dilingkungan keluarga yang tidak baik, mereka sering melanggar aturan dan tidak bisa menerima pelajaran dengan baik karna batin dan pemikiran mereka terganggu oleh persoalan di rumah.

Ada juga anak yang putus sekolah akibat perceraian orang tua. Selain karna beban mental yang diterima,mereka memilih untuk putus sekolah karena harus mengurus adik-adiknya.

Selain akibat keluarga yang tidak harmonis. Anak putus sekolah karna anak tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang secara penuh dari orang tua dan keluarganya. Kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua ini disebabkan karna orang tua dengan ekonomi menengah kebawah,sibuk bekerja mencari nafkah.Anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tua dan keluarganya ini, seringkali mencari kasih sayang diluar rumah. Seperti pacaran,dengan adanya pacaran yang kebanyakan membuat pendidikan terganggu dan pacaran yang tidak dibatasi dan dikontrol apalagi diusia-usia remaja yang tingkat rasa ingin tahunya tinggi serta dalam pencarian jati diri,banyak anak sekolah yang terjerumus kedalam perbuatan maksiat yang dari segi agama dan pemerintahan tidak bisa di toleransi lagi,seperti perbuatan zina,narkoba akibat pergaulan bebas. Ini menyebabkan anak dikeluarkan dari sekolah dan putus sekolah kembali terjadi.

Selain itu, keberadaan anak perempuan didalam pendidikan masih kurang perhatian dari sebagian orang tua, anggapan bahwa “setinggi apapun sekolah anak perempuan,akhirnya kedapur juga” ini masih berkembang ditengah-ditengah masyarakat. Tidak sedikit siswi yang putus sekolah karena menikah.

Cepatnya pemikiran untuk menikah di kalangan siswi salah satu akibat dari film yang dipertontonkan di televisi yang mana tayangannya,lebih besar nilai fiktifnya dan amoralnya dibandingkan nilai pendidikannya, dan ada juga karena faktor ekonomi,sebagaimana pemikiran yang berkembang di kalangan masyarakat bahwa“walaupun anak perempuan tidak sekolah, hidupnya akan ditanggung suaminya, kalau anak laiki-laki lebih baik bersekolah karena akan membiayai hidup istrinya” sehingga pendidikan tidak menjadi hal yang penting dan hal yang di utamakan .

Bagi anak laki-laki, banyak yang putus sekolah karena lingkungan yang kurang baik serta kurangnya pengawasan orang tua. Seorang anak bersekolah yang bergaul dengan anak-anak yang tidak bersekolah maka dia akan mengikuti kebiasaan anak yang tidak bersekolah tersebut. Seperti merokok, berjudu, minum-minuman keras, sehingga tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan sering melakukan pelanggaran yang membuat dia dikeluarkan dari sekolah.

Kurangnya pengawasan dari orang tua juga menjadi faktor pendorong anak putus sekolah. Contohnya, anak menonton sampai larut malam, bahkan sampai dini hari yang tidak dikontrol oleh orang tua. Sehingga anak tidak konsentrasi sewaktu mengikuti proses pembelajaran di sekolah,karna fisik kurang sehat dan rasa ngantuk akibat kurang tidur. Selain itu anak yang kurang pengawasan orang tua ini sering melanggar peratuaran yang berlaku disekolah, dengan seringnya melanggar peraturan sekolah ini, anak tersebut dekeluarkan dari sekolah.


b.      Lingkungan teman pergaulan

Selain lingkungan keluarga,lingkungan teman pergaulan  juga membentuk karakter dn kepribadian dari anak. Lingkungan teman pergaulan ini juga bisa membuat anak putus sekolah.

Dikalangan siswi sebahagian putus sekolah karena dipengaruhi oleh pacarnya,karma pacarnya mengajak siswi tersebut untuk menikah. berbeda dikalangan siswa. Walaupun, telah diprioritasikan untuk bersekolah oleh orang tuanya, siswa tetap tidak mengikuti proses belajar mengajar dengan baik dan sering melanggar aturan, ini disebabkan karena pengaruh teman diluar sekolah yang tidak bersekolah.

Bagi siswa ditingkat SMA/sederajat, siswa yang putus sekolah karena teman pergaulan ini yaitu karena siswa tersebut berteman dengan anak yang tidak bersekolah dan terbawa-bawa oleh kebiasaan temannya tersebut seperti merokok, minm-minuman keras, berjudi dan ngumpul-ngumpul sampai larut malam bahkan sampai dini hari.

Dengan terbawa-bawa oleh kebiasaan teman yang tidak bersekolah tersebut akan membuat siswa tidak bisa mengikuti pelajaran disekolah dengan baik karena rasa ngantuk akibat kurang tidur dan juga malas untuk sekolah. Dan apabila kebiasaan merokok, minim-minuman keras, dan berjudi itu diketahui pihak sekolah tentunya akan membuat siswa itu dikeluarkan dari sekolah dan putus sekolah pun terjadi.

Bagi siswa ditingkat sekolah dasar siswa terpengaruh kemajuan teknologi informasi dan komuniksi. Jika tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya, maka anak-anak didik akan terbawa kearah yang negatif, yang nantinya akan membuat kepribadian mereka negatif yang bisa membuat mereka dikeluarkan dari sekolah.

2.2.3 FAKTOR PRIBADI

Manusia adalah makhluk bebas yang memiliki hak dan kewajiban. Melanjutkan pendidikan atau berhenti adalah pilihan. Walaupun perekonomian orang tua bisa membiayai biaya sekolah,namun jika keinginan untuk melanjutkan sekolah tidak ada,maka anak tersebut tetap akan mengalami putus sekolah.Seseorang yang keluar dari sekolah atau putus sekolah ada yang didasari keinginannya sendiri.
Memilih putus sekolah tentunya ada alasan. Secara garis besar anak memilih putus sekolah karena:

2.2.3.1 Tidak ingin menyusahkan orang tua

Melihat perekonomian orang tua yang berada digaris menengah kebawah membuat suatu pemikiran dikalangan siswa siswi bahwa “lebih baik berhenti sekolah dan membantu orang tua, kalupun sekolah belum tentu akan berhasil” dengan pemikiran seperti ini seorang anak memilih untuk putus sekolah dan bekerja. Rasa kasihan timbul dari hati siswa siswi melihat kondisi orang yang semakin tua,apalagi kalau orang tua yang tidak lengkap,baik berpisah karena meninggal maupun berpisah karena cerai.

2.2.3.2.Rasa Malu

Menurut teori psikogenesis konflik batin mempengaruhi kepribadian anak. Sebagaimana kita ketahui kemampuan seseorang dalam belajar dan menerima pelajaran tidak sama. Anak yang kurang dalam menerima pelajran dan sering tidak naik kelas. Memutuskan untuk putus sekolah karena malu belajar disekolah. Selain malu belajar dengan anak yang seharusnya adik kelasnya, dia juga malu dengan teman-temannya yang telah naik kelas.

2.2.3.3.Kesadaran akan kebutuhan belajar anak kurang

Ada anak yang berfikiran bahwa belajar itu hanya buang-buang waktu yang tidak menghasilkan apa-apa. Bisa membaca dan menulis saja suadah cukup.
Pemikiran anak seperi itu merupakan pemikiran zaman dahulu bahkan pemikiran di era globalisasi. Namun, ini masih ada dikalangan pelajar.

2.2.3.4.Tidak merasakan nikmatnya sekolah
Banyak para pelajar yang tidak merasakan nikmatnya sekolah dan lebih cendrung kepada bermain-main. Ini terjadi karena disekolah dia tidak bisa berbuat banyak, karena kemampuan berfikir yang kurag dan malas mengikuti kegiatan sekolah seperti organisasi. Yang membuat mereka tidak dengarkan pelajaran pelajaran dan pulang. In membuat mereka jenuh dan memilih untuk putus sekolah. Dan juga disebabkan karena memasuki suatu sekolah atas paksaan orang tua.

2.2.3.5 Telah merasakan nikmatnya mendapat uang sendiri

Untuk membantu perekonomian keluarga banyak anak sekolah yang bekerja sampingan. Dari kerjanya tadi anak memperoleh hasil yaitu uang. Dengan menerima hasil ini, anak belajar “untuk apa saja sekolah lagi, saya sudah bisa mendapatkan uang sendiri” sehingga anak lebih memilih untuk bekerja dan putus asa.
Setelah putus sekolah anak tersebut melanjutkan pekerjaan yang telah dijalani sewaktu dalam jenjang pendidikan.



 BAB V
DAMPAK DARI ANAK PUTUS SEKOLAH

Dampak yang ditimbulkan dari anak putus sekolah ini adalah :
5.1 Dari pihak keluarga
            Dari segi positif
·         Dapat membantu perekonomian keluarga
·         Mengurangi beban orang tua
Dari segi negatif
·         Semakin membuat resah orang tua karna kelakuan semakin bebas
·         Membut malu orang otua dan keluarga karna putus sekolah akibat pergaulan bebas
5.2. Dari Masyarakat
            Dampak positif :
·         Dapat membantu pekerjaan bagi masyarakat yang membutuhkan
Dampak negatif :
·         Membuat keresahan di masyarakat karna anak yang putus sekolah  berbuat tindakan amoral. Seperti minum minuman keras,berjudi,tauran dan pembunuhan akibat tekanan kebutuhan yang semakin meningkat.
 
 5.3 Dari Pemerintahan
            Dampak negatif :
·         Membuat angka pengangguran semakin meningkat
·         Kriminalitas semakin meningkat
·         Pengeluaran pemerintah dalam hal biaya sosial anak akan bertambah, seperti yang berkaitan dengan perawatan psikologis,peningkatan kualitas pengamanan wilayah dan peningkatan volume proses peradilan

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:
1.      faktor penyebab putus sekolah sebagai berikut.
-          faktor ekonomi
-          faktor lingkungan
-          faktor pribadi
a.       tidak ingin menyusahkan orang tua
b.      malu
c.       kesadaran akan kebutuhan belajar anak kurang
d.      telah merasakan nikmatnya sekolah
e.       telah merasakan nikmatya mendapatkan uang sendiri

3.2 SARAN
Peneliti menyarankan :
1.      Sebaiknya Pemerintah lebih memperhatikan perekonomian masyarakat Bangkinang Barat
2.      hendaknya orang tua lebih memberikan perhatian kepada anak-anaknya
3.      hendaknya orang tua mengontrol anak mereka
4.      sebaiknya anak yang putus sekolah diberikan pelatihan khusus untuk menambah keahlian mereka

DAFTAR PUSTAKA
Kartono kartini, Kenakalan remaja,Raja wali.Jakarta.1986
Ritonga M.T.2007.Ekonomi Untuk Kelas XI.Jakarta:PT. Phibeta Aneka Gama..



PENGESAHAN




JUDUL PENELITIAN          : PENGARUH EKONOMI TERHADAP PUTUSNYA
  SEKOLAH ANAK
 
JENIS PENELITIAN                        : SURVEI LAPANGAN

NAMA PENELITI                 : SUSDAMITA
                                               

LOKASI PENELITIAN        : SEKOLAH-SEKOLAH DI KECAMATAN
  BANGKINANG  BARAT

WAKTU PENELITIAN        : BULAN JANUARI  2010





                                                                                                Kuok, 25 Februari 2010
              Pembimbing,                                                                Peneliti,
                                                                       




            HERLINDA YANTI,SE                                           SUSDAMITA
           


                                                Mengesahkan,
                                                Kepala MAN KUOK




                                                Drs. HUSAINI, M.Pd
                                                Nip. 19671219 199503 1 002




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar