Kamis, 11 Oktober 2012

MAKALAH DEKONSTRUKSI


BAB I Pendahuluan

1.1  Latar Belakang Pemikiran

Sebagaimana kita ketahui sastra tidak bisa kita lepaskan dari kehidupan kita. Semenjak kita masih balita, kita telah mengenal yang namanya sastra yaitu berupa dongeng-dongeng yang diceritakan oleh orang tua ataupun kakak-kakak kita. Seiring berjalannya waktu sastra pun semakin kita kenal dan tidak hanya berupa dongeng, melainkan bentuk sastra lainnya seperti puisi, cerpen, novel ataupun film yang bisa digolongkan pada jenis karya sastra puisi, prosa, dan drama.

Kita sebagai mahasiswa apalagi jurusan bahasa dan sastra Indonesia tentunya telah banyak karya sastra yang telah kita baca ataupun kita buat sendiri. Namun dalam membaca teks karya sastra, kita masih berpandangan satu arah dengan mengikuti pendapat atau simpulan yang telah dikonvensionalkan serta cepat menyimpulkan pemaknaan cerita dengan hanya membaca dan mentelaah teks secara umum saja.

Kita pada saat ini telah berada pada masa postmodernisasi, pandangan-pandangan seperti diatas tidak diinginkan dalam sastra. Pada masa ini kita dituntut untuk lebih kritis dalam membaca karya sastra, sehingga muncullah metode-metode pembacaan teks seperti dekonstruksi.

Dekonstruksi menolak pandangan bahwa bahasa memiliki makna yang pasti, tertentu, dan konstan, sebagaimana halnya pandangan strukturalisme klasik. Tidak ada ungakapn atau bentuk-bentuk kebahasaan yang bermkana tertentu dan pasti. Hal ini yang menjadikan paham dekonstruksi sebagai poststrukturalisme.

Dengan menggunakan metode dekonstruksi dalam membaca teks diharapkan kita bisa melihat fakta-fakta lain dalam teks karya sastra. Sehingga tidak ada kemutlakan dalam memaknai karya sastra dan menghilangkan anggapan-anggapan yang absolut serta menemukan hal-hal baru yang pada awalnya terabaikan.

 

1.2  Permasalahan

Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:

1.2.1         Bagaimana pengertian dekonstruksi?

1.2.2         Bagaimana sejarah dekonstruksi?

1.2.3         Siapa tokoh-tokoh dalam dekonstruksi?

1.2.4         Apa saja prinsip-prinsip dalam dekonstruksi?

1.2.5         Bagaimana dekonstruksi aliran Amerika?

1.2.6         Bagaimana metode penelitian dekonstruksi?

1.2.7         Contoh tulisan dengan metode dekonstruksi.

1.2.8         Apa tujuan dari teori dekonstruksi?

1.2.9         Bagaimana penerapan dan sistematika dekonstruksi?

1.2.10     Apa pengaruh dekonstruksi terhadapa kajian budaya?

1.2.11     Apa kelebihan dan kelemahan dari teori dekonstruksi?

                      

1.3  Tujuan penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:

1.3.1         Mendeskripsikan pengertian dekonstruksi.

1.3.2         Mendeskripsikan sejarah dekonstruksi.

1.3.3         Mendeskripsikan tokoh-tokoh dalam dekonstruksi.

1.3.4         Mendeskripsikan prinsip-prinsip dalam dekonstruksi.

1.3.5         Mendeskripsikan dekonstruksi aliran Amerika.

1.3.6         Mendeskripsikan metode penelitian dekonstruksi.

1.3.7         Mendeskripsikan contoh tulisan dengan metode dekonstruksi.

1.3.8         Mendeskripsikan tujuan dari teori dekonstruksi.

1.3.9         Mendeskripsikan penerapan dan sistematika dekonstruksi.

1.3.10     Mendeskripsikan dekonstruksi terhadapa kajian budaya.

1.3.11     Mendeskripsikan kelebihan dan kelemahan dari teori dekonstruksi.

 

 

 

 

BAB II Dekonstruksi

2.1 Pengertian dekonstruksi

Dari sumber (http://yesalover.wordpress.com/2007/03/16/dekonstruksi-derrida-upaya-untuk-memecah-mecah-konsep/) terdapat beberapa pengertian dekonstruksi menurut para ahli yaitu sebagai berikut, secara leksikal prefiks ‘de’ berarti penurunan, pengurangan, penokohan, penolakan. Jadi, dekonstruksi dapat diartikan sebagai cara-cara pengurangan terhadap konstruksi, yaitu gagasan.

Kristeva (1980:36-37), menjelaskan bahwa dekonstruksi merupakan gabungan antara hakikat destruktif dan konstruktif. Dekonstruksi adalah cara membaca teks, sebagai strategi. Dekonstruksi tidak semata-mata ditunjukkan terhadap tulisan, tetapi semua pernyataan kultural sebab keseluruhannya pernyataan tersebut adalah teks yang dengan sendirinya sudah mengandung nilai-nilai, prasyarat, ideologi, kebenaran, dan tujuan-tujuan tertentu. Dekonstruksi dengan demikian tidak terbatas hanya melibatkan diri dalam kajian wacana, baik lisan maupun tulisan, melainkan juga kekuatan-kekuatan lain yang secara efektif mentransformasikan hakikat wacana.

Menurut Al-fayyadl (2011: 232) dekonstruksi adalah testimoni terbuka kepada mereka yang kalah, mereka yang terpinggirkan oleh stabilitas rezim bernama pengarang. Maka, sebuah dekonstruksi adalah gerak perjalanan menuju hidup itu sendiri.

Dari sumber lain, dekonstruksi dikatakan sebagai sebuah metode pembacaan teks. Dengan dekonstruksi ditunjukkan bahwa dalam setiap teks selalu hadir anggapan-anggapan yang dianggap absolut. Padahal, setiap anggapan selalu kontekstual: anggapan selalu hadir sebagai konstruksi sosial yang menyejarah. Maksudnya, anggapan-anggapan tersebut tidak mengacu kepada makna final. Anggapan-anggapan tersebut hadir sebagai jejak (trace) yang bisa dirunut pembentukannya dalam sejarah. (http://id.wikipedia.org/wiki/Dekonstruksi).

Umar Junus (1996:109-109) memandang dekonstruksi sebagai persepektif baru dalam penelitian sastra. Dekonstruksi justru memberikan dorongan untuk menemukan segala sesuatu yang selama ini tidak memperoleh perhatian. Memungkinkan untuk melakukan penjelajahan intelektual dengan apa saja, tanpa terikat dengan sutu aturan yang dianggap telah berlaku universal.    

Dekonstruksi, secara garis besar adalah cara untuk membawa kontradiksi-kontradiksi yang bersembunyi di balik konsep-konsep kita selama ini dan keyakinan yang melekat pada diri ini ke hadapan kita.

Inilah beberapa pengertian dari dekonstruksi. Salah satu tokoh dekonstruksi yaitu Jacques Derrida menunjukkan bahwa kita selalu cenderung untuk melepaskan teks dari konteksnya. Satu term tertentu kita lepaskan dari konteks (dari jejaknya) dan hadir sebagai makna final. Inilah yang Derrida sebut sebagai logosentrisme. Yaitu, kecenderungan untuk mengacu kepada suatu metafisika tertentu, suatu kehadiran objek absolut tertentu. Dengan metode dekonstruksi, Derrida ingin membuat kita kritis terhadap teks.

2.2 Sejarah Dekonstruksi

Dalam bidang filsafat maupun sastra, dekonstruksi termasuk salah satu teori yang sangat sulit untuk dipahami. Dibandingkan dengan teori-teori postrukturalisme pada umumnya, secara definitif perbedaan sekaligus ciri khas dekonstruksi sebagaimana dikemukakan oleh Derrida (1976) adalah penolakannya terhadap logosentrisme dan fonosentrisme yang secara keseluruhan melahirkan oposisi biner dan cara-cara berpikir lainnya yang bersifat hierarkis dikotomis. Konsep dekontruksi (Selden, 1986:84) mulai dikenal sejak Derrida membawakan makalahnya yang berjudul “Structure, sign, and play in the discourse of the human sciences “,di universitas Johns Hopkins tahun 1966.

Aliran dekonsruksi lahir di Perancis sekitar tahun 1960-an, yang kemudian berpengaruh besar di Amerika sekitar tahun 1970-an hingga pada tahun 1980-an. Pada dasarnya, menurut Sarup (2003:51) dekonstruksi bertujuan untuk membongkar tradisi metafisika barat seperti fenomenologi Husserlian, strukturalisme Saussurean, strukturalisme Perancis pada umumnya, psikoanalisis Freudian dan Psikoanalisis Lacanian. Tugas dekonstruksi, mengungkap hakikat problematika wacana-wacana yang dipusatkan, dipihak yang lain membongkar metafisika dengan megubah batas-batasnya secara konseptual. Dekonstruksi juga berkembang di Amerika, sebagai aliran yale.

2.3 Tokoh-tokoh dalam Dekonstruksi

Dekonstruksi  yang kita ketahui sekarang ini tidaklah hadir dengan sendirinya, melainkan hadir melalui ilmuan-ilmuan yang ahli dibidangnya. Tokoh terpenting dekonstruksi adalah Jacques Derrida, seorang Yahudi Aljazair yang kemudian menjadi ahli filsafat dan kritik sastra di Perancis.

 Derrida dilahirkan pada tanggal 15 Juli 1930 di El Biar, Aljazair dan meninggal di Paris, Perancis tanggal 8 Oktober 2004 –Karena itu Derrida lebih dikenal sebgai filosof Perancis daripada filosof Aljazair. Filsuf ini secara terang-terangan telah mengkritik filsuf Barat, terutama kritik dan analisis mengenai bahasa “alam”, tulisan, dan makna sebuah konsep. Dekonstruksi merupakan alat yang digunakannya untuk meruntuhkan konsep-konsep dan deskripsi-deskripsi kita selama ini. tokoh selanjutnya adalah Nietzsche. Selain itu di Amerika terdapat juga tokoh dekonstruksi yaitu Paul de Man, J.Hillis Miller, Geoffery Hartman, Harold Bloom.

 

 

2.4 Prinsip-prinsip dalam Dekonstruksi

Prinsip- prinsip yang terdapat dalam teori dekonstruksi adalah:

1. Melacak unsur-unsur aporia (makna paradoks, makna kontradiktif, dan makna ironi)

2. Membalikkan atau merubah makna-makna yang sudah dikonvensionalkan

Pada dasarnya dekonstruksi yang sudah dilakukan oleh Nietzsche (Culler, 1983:86-87) dalam kaitannya dengan usaha-usaha untuk memberikan makna baru terhadap prinsip sebab-akibat. Prinsip sebab-akibat selalu memberikan perhatian terhadap sebab, sedangkan akibatnya sebagai gejala minor. Nietzsche menjelaskan bahwa prinsip sebab akibat bukanlah hukum universal melainkan merupakan retorika bahasa, sebagai gejala metonimi, gejala bahasa dengan cara melekatkan nama orang atau benda-benda pada pusat objek yang lain.

Saussure menjelaskan bahwa makna yang diperoleh melalui pembagian lambang-lambang  menjadi penanda dan petanda. Dekonstruksi menolak keputusan tersebut dengan cara terus menerus berusaha melepaskan diri, sekligus mencoba menemukan pusat-pusat yang baru. Menurut Saussure (Eagleton, 1983:128), hubungan penanda dengan petanda bersifat pasti.

Derrida (Spivak, 1976:xliii) menjelaskan peristiwa diatas dengan istilah differEnce dan differAnce, dua kata yang ucapannya hampir sama tetapi penulisannya berbeda, dibedakan melalui huruf ke-7. Kedua kata tersebut berasal dari bahasa latin,  differe, yang sekaligus berarti to differ (membedakan) yang berkonotasi spasial, dan to defer (menuda) yang berkonotasi temporal. Derrida (Norris, 1983:32) menghubungkan kerangka ruang dan waktu dengan tanda dan bendanya, tanda sebagai wakil dari bendanya. Tanda sekaligus menunjukkan kehadiran yang tertunda. Makna kata difference berada dalam posisi yang mengambang antara to differ dan to defer, keduanya berpengaruh terhadap kekuatan tekstual, tetapi tidak secara utuh mewakili kata difference tersebut. Oleh karena tanda-tanda mengimplikasikan makna, maka makna karya pun selalu berbeda dan tertunda, sesuai dengan ruang dan waktu. Artinya, antara konsep dan kenyataan selalu mempunyai jarak sekaligus perbedaan. Derrida menjdai terkenal karena konsep dekonstruksi, logosentrisme, fonosentrisme, differEnce / differAnce, trace, dan dencentering.

Differance (Derrida, 2002:45,61) adalah istilah yang diciptakan oleh Derrida tahun 1968 dalam kaitannya dengan pemahamannya mengenai ilmu bahasa Saussure dan antropologi Levi-Strauss. Menurut Derrida, perbedaaan  difference dan differance, bahasa kamus baik bahasa Inggris maupun bahasa Perancis dan bahasa dekonstruksi Derrida, tidak dapat diketahui melalui ucapan, melainkan melalui tulisan. Menurutnya, tulisan lebih utama dibandingkan dengan ucapan. Menurut Derrida (Eagleton, 1983:127-128) makna tidak dengan sendirinya hadir dalam suatu lambang. Lambang mempersoalkan sesuatu yang bukan dirinya, lambang mewakili sesuatu yang lain. Makna hadir dalam rangkaian penanda.

Konsep Saussure yang juga didekonstruksi oleh Derrida adalah doktrin hierarki ucapan-tulisan, yang pada dasarnya memandang ucapan sebagai pusat, sedangkan tulisan sebagai non pusat. Menurut Saussure, ucapan lebih dekat dengan pikiran dan perasaan sebab ucapan mengimplikasikan subjek yang berbicara, subjek yang hadir secara serta merta, sedangkan tulisan yang bersifat sekunder, termediasi, grafis dan mewakili.

Menurut Derrida konsep ucapan-tulisan dapat saja dibalik menjadi tulisan-ucapan. Ujaran pun adalah sejenis tulisan, ujaran selalu sudah tertulis, dan dengan demikian bahasa pun sudah tertulis. Menurut Rousseau, ucapan merupakan bentuk asal, tulisan merupakan pelengkap bahasa lisan. Di pihak yang lain, Levi-Strauss melukiskan hubungan antara alam dan kebudayaan yang dengan sendirinya sudah tertulis.

 

 

2.5 Dekonstruksi Aliran Amerika

Aliran dekonstruksi lahir di Perancis sekitar tahun 1960-an, yang kemudian berpengaruh besar di Amerika sekitar tahun 1970-an hingga pada tahun 1980-an. Pada dasarnya, menurut Sarup (2003:51) dekonstruksi bertujuan untuk membongkar tradisi metafisika barat seperti fenomenologi Husserlian, strukturalisme Saussurean, strukturalisme Perancis pada umumnya, psikoanalisis Freudian dan Psikoanalisis Lacanian. Tugas dekonstruksi, mengungkap hakikat problematika wacana-wacana yang dipusatkan, dipihak yang lain membongkar metafisika dengan megubah batas-batasnya secara konseptual. Dekonstruksi juga berkembang di Amerika, sebagai aliran yale.

Tokoh-tokoh deonstruksi Amerika diantaranya: Paul de Man, J.Hillis Miller, Geoffery Hartman, dan Harold Bloom. Paul de Man (Eagleton,1983:145;Selden,1986:96) lahir di Belgia, merupakan seorang Filolog dan kritikus sastra. Paul de Man memandang bahwa semua bahasa bersifat metafora, bahasa sastra mendekonstruksi hakikatnya sendiri. Hillis Miller memusatkan perhatian pada dekonstruksi rekaan Goeffery Hartman memusatkan perhatian pada sastra kontemporer, teks-teks injil, dan kritik kebudayaan. Harold Bloom menggabungkan teori trope atau bahasa kias, psikologi Freut dan teks injil.

2.6 Metode Penelitian Dekonstruksi

Karya sastra adalah cipta seni yang bermediumkan bahasa yang dominan Unsur estetiknya. Bahasa yang dipakai sebagai medium di dalam karya sastra menggunakan bahasa tingkat kedua (significance) atau konvensi tambahan (Preminger via Pradopo, 1995: 121). Penggunaan bahasa tingkat kedua dalam karya sastra memungkinkan lahirnya penafsiran yang banyak terhadap karya sastra tersebut. Oleh karena itu, upaya untuk menemukan makna tunggal dari sebuah karya sastra adalah sesuatu yang mustahil. Sebab setiap penemuan jejak makna dalam sebuah teks, akan melahirkan jejak baru dibalik makna tersebut (Derrida dalam Norris, 2003: 12).

Dekonstruksi menolak adanya gagasan makna pusat. Pusat itu relatif. Ia mengingkari makna monosemi (Selden, 1985:88). Jadi untuk pemaknaan ini sangat longgar. Oleh karena itulah banyak tafsir terhadap objek. Menurut Norris (2003:24) dekonstruksi merupakan strategi untuk membuktikan bahwa sastra bukanlah bahasa yang sederhana.

Hakekat dekonstruksi adalah penerapan pola analisis teks yang dikehendaki oleh peneliti dan menjaga teks agar tetap bermakna polisemi. Di dalam penafsirannya selalu terjadi proses membedakan dan menangguhkan (difference). Istilah difference ini diungkapkan pertama oleh Derrida untuk menyatakan ciri tanda yang terpecah. Di sini dipilih unit wacana yang mampu menimbulkan kebuntuan makna atau satu figur yang menimbulkan satu kesulitan untuk dijabarkan. Bagian ini disebut titik aphoria (Norris, 1982:49). Titik aphoria selanjutnya akan menimbulkan alusi. Ketika ditemukan sebuah inti wacana yang mengalami kebuntuan maka akan timbul asosiasi dengan teks lain atau peristiwa yang senada dengan yang dihadapi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mempertentangkan atau menyejajarkan dengan unit wacana yang dihadapi. Penyejajaran atau pertentangan bisa dihubungkan dengan unit wacana lain di dalam teks yang sama (retrospektif) atau bisa dengan melacaknya di luar obyek (prospektif). Jadi cara ini seperti bermain bebas (free play).

Dekonstruksi sangat percaya kepada teks. Teks mempunyai otonomi yang luar biasa, segalanya hanya dimungkinkan oleh teks (Junus, 1985:98). Lebih lanjut Umar Junus mengatakan bahwa sebuah teks punya banyak kemungkinan makna sehingga teks sangat berbeda. Seorang pembaca tak akan mengkonkretkan satu makna saja, tetapi akan membiarkan segala kemungkinan makna hidup, sehingga teks itu ambigu. Dekonstruksi lebih menumpukan kepada unsur bahasa. Bahkan dapat dikatakan dekonstruksi bertolak dari unsur bahasa yang kecil untuk kemudian bergerak maju kepada keseluruhan teks. (1985:99).

Metode dekonstruksi yang dilakukan Derrida lebih dikenal dengan istilah dekonstruksi metaforik. Metafora di sini bukan dipahami sebagai suatu aspek dari fungsi ekspresif bahasa tapi sebagai suatu kondisi yang esensial tentang tuturan (Sarup, 2003:77-79). Metafora mewakili salah satu cara dari penyusunan wacana dan secara kuat mempengaruhi pemahaman teks berbagai hal. Dekonstruksi dilakukan terhadap teks metaforis yang disusun oleh penulis. Dekonstruksi bisa terjadi pada teks itu sendiri atau sebaliknya kita yang mendekonstruksi sebuah teks.

Kata-kata yang dipakai dalam bahasa karya sastra bersifat denotatif sekaligus konotatif. Pengalaman batin bisa muncul dari asosiasi pikiran dengan arti kata-kata, tetapi sering juga lewat bunyi kata. Pertalian pikiran yang timbul dari kata bisa melayang, meledak, suci, murni, hitam, legam dan seterusnya. Hal ini bukan hanya terjadi dari katanya tetapi bisa juga dari bunyi katanya. Kesadaran akan adanya asosiasi itu melahirkan kecenderungan kepada simbolisme

Sebagai langkah dalam menyikapi karya sastra melalui dekonstruksi Derrida pun kemudian menggunakan istilah “trace” sebagai konsep dalam menelusuri makna. Trace (jejak) bersifat misterius dan tidak terungkap, muncul sebagai kekuatan dan pembentuk tulisan, menembus dan memberi energi pada aktivitasnya yang menyeluruh. Hal ini berarti bahwa makna akan bergerak, harus dilacak terus menerus dan meloncat-loncat.

Pengarang di dalam mengemukakan perasaannya sering tidak secara langsung. Kadang-kadang lewat peristiwa-peristiwa maupun simbol-simbol. Di sinilah letak pentingnya pengalaman dan pengetahuan pembaca untuk bisa menangkap pesan tersebut. Bekal pengetahuan yang Jausz disebut sebagai horizon harapan ini sangat penting dalam upaya mencari jejak (trace) sebagai metode pemaknaan dekonstruksi. Dengan bekal itu pembaca akan bisa mengisi tempat kosong dalam teks, karena memang sifat karya sastra itu multiinterpretable (Pradopo, 1985:185). Inilah penggambaran dari metode penelitian dekonstruksi tersebut.

(http://staff.undip.ac.id/sastra/fauzan/2009/07/22/dekonstruksi-terhadap-figur-keturunan-darah-biru/)

2.7 Contoh Tulisan dengan Metode Dekonstruksi

Cara pembacaan dengan dekonstruksi dapat digunakan terhadap novel-novel pada umumnya. Disini penulis mengambil contoh cara pembacaan dengan dekonstruksi pada novel Siti Nurbaya.

Pada umumnya pembaca beranggapan bahwa Samsul Bahri merupakan tokoh protagonis yang hero, tokoh putih, sedang Datuk Maringgih merupakan tokoh antagonis yang serba jahat, tokoh hitam. Melalui cara dekonstruksi, keadaan itu justru akan terbalik.

Samsul Bahri bukanlah seorang pemuda hero, melainkan seorang pemuda cengeng dan berperasaan nasionalisme sempit. Hanya karena kegagalan cintanya terhadap seorang gadis ( yang kemudian ternyata sudah janda), ia lupa akan dirinya: putus asa dan bunuh diri. Hal itu menunjukkan secara mental, ia bukanlah seorang pemuda yang kuat. Setelah ternyata usaha  bunuh dirinya gagal juga, ia memutuska masuk serdadu kompeni. Belakangan, ketika di daerah Sumatra Barat, yang merupakan tanah kelahirannya terjadi pemberontakan karena masalah blasting, ia ditugaskan untuk menumpas pemberontakan itu. Dengan bersemangat, ia berangkat ke medan tempur karena sekaligus bermaksud membalas dendam terhadap Datuk Maringgih yang menjadi biang keladi kegagalan cintanya. Apapun alasannya hal itu berarti ia memerangi bangsanya sendiri dan justru berdiri di pihak membela kepentingan penjajah.

Dilihat dari dekonstruksi Jaus, yaitu yang mempertimbangkan aspek historis yang berwujud “sejarah” tanggapan pembaca dari masa ke masa, perbuatan Samsul Bahri dewasa ini, sesuai dengan konteks sosial yang ada, justru dapat ditanggapai sebagai perbuatan menghianat bangsa. Terhadap bangsa sendiri ia sampai hati untuk memeranginya, semata-mata didorong oleh motivasi pribadi. Ia sama sekali bukan seorang pahlawan, bahkan bukan pahlawan cinta sekalipun.

Datuk Maringgih, di pihak lain, walau dia diakui banyak orang sebagai tokoh jahat, bandot tua yang doyan perempuan namun hal ini pun yang menganggapnya baik, misalnya ia justru dipandang sebagai pahlawan cinta seperti dalam nyanyian kelompok bimbo justru dapat dipandang sebagai tokoh yang kuat dan berdimensi baik. Dialah yang menjadi salah seorang tokoh yang menggerakkan pemberontakkan terhadap penjajah Belanda itu, walau hal itu dilakukan terutama juga karena motivasi pribadi: dia yang paling banyak kena pajak. Apapun motivasinya, ia menjadi tokoh pemberontak. Artinya, dia adalah tokoh pejuang bangsa, yang seberapa pun kecil andilnya, bermaksud mengenyahkan penjajah dari bumi Indonesia. Dengan demikian, justru dialah yang “berhak” disebut pahlawan dan bukannya Samsul Bahri.

Ahmad Maulana dan Halimah, dalam novel Siti Nurbaya itu, hanya merupakan tokoh pinggiran yang umumnya dianggap kurang penting. Namun, jika dipahami betul pesan-pesan penting yang ingin disampaikan lewat novel itu, akan terlihat kedua tokoh itu sebenarnya amat berperan. Dengan perbincangannya dengan Nurbaya, Ahmad Maulana inilah yang mengungkapkan kejelekan-kejelekan perkawinan poligami yang sebenarnya lebih baik menyengsarakan wanita dan anak-anaknya. Sikap dan pandangan hidup Nurbaya, sebenarnya, banyak dipengaruhi oleh sikap dan pandangan hidup kedua tokoh tersebut.

Inila contoh pembacaan sastra dengan dekonstruksi. Pemahaman dan keyakinan yang telah dikonvensional selama ini diruntuhkan dengan teori ini, dimana posisi dan kondisi yang telah dikonvensionalkan itu berubah menjadi bertolak belakang.

2.8 Tujuan Dekonstruksi

Menurut Sarup (2003:51) dekonstruksi bertujuan untuk membongkar tradisi metafisika Barat seperti fenomenologi Husserlin, strukturalisme saussurean, strukturalisme Perancis pada umumnya, psikoanalisi Freudian, dan psikoanalisis Lacanian. Tugas dekonstruksi, disattu pihak mengungkap problematika wacana-wacana yang dipusatkan, di pihak lain membongkar metafisika dengan mengubah batas-batasnya secara konseptual.

Sedangkan tujuan metode dekonstruksi adalah menunjukkan ketidakberhasilan upaya penghadiran kebenaran absolut, dan ingin menelanjangi agenda tersembunyi yang mengandung banyak kelemahan dan ketimpamgan di balik teks-teks.

2.9 Penerapan dan Sistematika Dekonstruksi

Pada awalnya, dekonstruksi adalah cara atau metode membaca teks. Dekonstruksi berfungsi dengan cara masuk ke dalam analisis berkelanjutan, yang terus berlangsung, terhadap teks-teks tertentu. Ia berkomitmen pada analisis habishabisan terhadap makna literal teks, dan juga untuk menemukan problem-problem internal di dalam makna tersebut, yang mungkin bisa mengarahkan ke makna makna alternatif, di pojok-pojok teks (termasuk catatan kaki) yang diabaikan.

Dekonstruksi menyatakan bahwa di dalam setiap teks terdapat titik-titik ekuivokasi (pengelakan) dan kemampuan untuk tidak memutuskan (undacidabality), yang mengkhianati setiap stabilitas makna yang mungkin dimaksudkan oleh si pengarang dalam teks yang ditulisnya.

Proses penulisan selalu mengungkapkan hal yang diredam, menutupi hal yang diungkapkan, dan secara lebih umum menerobos oposisi-oposisi yang dipikirkan untuk kesinambungannya. Inilah sebabnya mengapa “filsafat” Derrida begitu berlandaskan pada teksm dan mengapa term-term kuncinya selalu berubah, karena selalu tergantung pada siapa atau apa yang ia cari untuk didekonstruksi, sehinggga titik pengekalan selalu dilokasikan di tempat yang berbeda.

Ini juga memastikan bahwa setiap upaya untuk menjelaskan apa itu dekonstruksi harus dilakukan dengan hati-hati. Ada suatu paradoks dalam upaya membatasi atau mengurung dekonstruksi pada satu maksud menyeluruh tertentu, mengingat dekonstruksi justru berlandaskan pada hasrat untuk mengekspos kita terhadap keseluruhan yang lain (tout autre), dan untuk membuka diri terhadap berbagai kemungkinan-kemungkinan alternatif.

Penjelasan ini  berisiko membuat kita semakin sulit memahami pemikiran Derrida. Adanya perbedaan yang lebar dan diakui meluas, antara karya-kaya awal dan karya-karya terakhir Derrida, juga menjadi contoh yang jelas bagi kesulitan yang akan muncul, jika kita menyatakan bahwa “dekonstruksi mengatakan ini” atau “dekonstruksi melarang itu”.

Namun, ada ciri tertentu dari dekonstruksi yang bisa kita lihat. Misalnya, keseluruhan upaya Derrida dilandaskan pada keyakinkannya tentang adanya dualisme, yang hadir dan tidak bisa dicabut lagi pada berbagai pemikiran filsafat Barat.

Kekhasan cara baca dekonstruktif, yang dalam proses selanjutnya membuatnya sangat bermuatan filosofi, adalah bahwa unsur-unsur yang dilacaknya untuk kemudian dibongkar bukanlah sekedar inkonsistensi logis, argumen yang lemah, atau premis tidak akurat yang terdapat dalam teks, sebagaimana yang biasanya dilakukan pemikiran modernisme. Melainkan, unsur yang secara filosofis menjadi penentu atau unsur yang memungkinkan teks tersebut menjadi filosofis. Singkatnya, kemungkinan filsafat itu sendirilah yang dipersoalkan.

Filsafat yang pada dasarnya adalah tulisan, ingin melepaskan statusnya sebagai tulisan, dan keluar dari kerangka fisik kebahasaan yang digunakannya. Bahasa ingin digunakan sebagai sarana transparan untuk menghadirkan makna dan kebenaran rill yang ekstralinguistik, atau dalam istilah kita tadi, kebenaran absolut, kebenaran yang betul-betul benar.

Sistematika penerapan dekonstruksi dalam berhadapan dengan teks, adalah: Pertama, mengidentifikasi hirarki oposisional dalam teks, dimana biasanya terlihat peristilahan mana yang diistimewakan secara sistematis dan mana yang tidak.

Kedua, oposisi-oposisi itu dibalik dengan menunjukkan adanya saling ketergantungan di antara yang saling bertentangan atau privilesenya dibalik. Ketiga, memperkenalkan sebuah istilah atau gagasan baru yang ternyata tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori oposisional lama.

Dengan langkah-langkah semacam ini, pembaca dekonstruksi berbeda dari pembacaan biasa. Pembacaan dekonstruksi berbeda dari pembacaan biasa. Pembacaan biasa selalu mencari makna yang lebih benar, yang teks itu sendiri barangkali tidak pernah memuatnya. Sedangkan pembacaan dekonstruktif ingin mencari ketidakutuhan atau kegagalan setiap upaya teks menutup diri dengan makna atau kebenaran tunggal.

2.10 Dekonstruksi Terhadapa Kajian Budaya

Dalam kajian budaya, dekonstruksi Derrida memberi pengaruh penting. Berkat dekonstruksi Derrida, makna kini tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang mutlak, tunggal, universal, dan stabil, tetapi makna selalu berubah. Klaim-klaim kebenaran absolut, kebenaran tunggal, yang biasa mewarnai gaya pemikiran filsafat sebelumnya, semakin digugat, dipertanyakan, dan tidak lagi bisa diterima.

Secara sepintas, seoalah-olah tidak ada tawaran “konkret” dari metode dekonstruksi. Namun, yang dimaui oleh dekonstruksi adalah menghidupkan kekuatan-kekuatan tersembunyi yang turut membangun teks. Teks dan kebudayaan tidak lagi dipandang sebagai tatanan makna yang utuh, melainkan sebagai arena pertarungan yang terbuka. Atau epatnya, permainan antara upaya penataan dan chaos, antara perdamaian dan perang, dan sebagainya.

Dalam kesusastraan, misalnya, dekonstruksi ditujukan sebagai metode pemabacaan kritis yang bebas, guna mencari celah, kontradiksi dalam teks yang berkonflik dengan maksud pengarang. Dalam hal ini, membaca teks bukan lagi dimaksudkan untuk menangkap makna yang dimaksudkan pengarang, melainkan justru untuk memproduksi makna-makna baru yang plural, tanpa klaim, absolut atau universal.

Dalam proses itu, penafsir juga tidak bisa mengambil posisi netral tatkala menganalisis suatu teks tanpa dirinya sendiri dipengaruhi atau dibentuk oleh teks-teks yang pernah dibaca. Teks itu sendiri juga tidak bisa diasalkan maknanya semata-mata pada gagasan si pengarang, karena pikiran pengarang juga merujuk kepada gagasan-gagasan pengarang lain yang mempengaruhinya.

Dekonstruksi, seperti juga pendekatan posmodernisme lainnya, dengan demikian cocok dengan konsep pluralitas budaya, pluralitas permainan bahasa, banyaknya wacana, penghargaan terhadap perbedaan, dsan membuka diri terhadap yang lain (the other).

Penghargaan terhadap perbedaan, pada “yang lain” ini membuka jalan bagi penghargaan pada pendekatan lokal, regional, etnik, baik pada masalah sejarah, seni, politik, masyarakat, dan kebudayaan pada umumnya.

Penelitian yang bersifat lokal, atau etnik, dan sebagainya kini mendapat tempat, dan pada gilirannya akan memperkaya dan menghasilkan deskripsi atau narasi-narasi khas masing-masing. Mungkin, inilah salah satu sumbangan penting dekonstruksi Derrida terhadap kajian budaya.

2.11  Kelebihan dan Kelemahan dari Teori Dekonstruksi

Dekonstruksi membuka ruang kreatif seluas-luasnya dalam proses pemaknaan dan penafsiran. Itulah kelebihan dekonstruksi, yang membuat setiap orang bebas memberi makna dan menafsiri suatu objek tanpa batas. Ruangan makna terbuka luas, penafsiran bertumbuh biak. Ibarat pepatah, mati satu tumbuh seribu. Penghancuran terhadap suatu makna oleh makna baru melahirkan makna-makna lain.

Demikian bebas, banyaknya makna dan tafsiran, membuat era dekonstruktivisme dianggap era matinya makna. Makna menjadi tak berarti lagi. Inilah kelemahan dekonstruksi. Kelemahan lainnya adalah:

1.    Kebebasan tanpa batas menjadikan makna kehilangan ‘roh’. Yang ada adalah massalisasi makna, retailisme makna. Menjadikan makna sebuah produk massal yang dapat mengurangi nilai obyek tidak lagi memiliki kemewahan ruang pemaknaan untuk ditelaah.

2.    Ketidakbernilaian makna, ke-chaos-an atau asumsi ‘pesimis’ matinya makna dapat menimbulkan apatisme dan ketidakberdayaan terhadap makna.

3.    Dekonstruksi tidak menyediakan shelter-shelter untuk persinggahan khusus dalam proses perjalanan pemaknaan. Titik-titik peristirahatan tertentu diperlukan untuk revitalisasi makna sebelum membuka ruang makna baru bagi perjalanan penafsiran yang lebih bugar. Dengan demikian, kejenuhan dan kebiasaan-kebiasaan pemaknaan dapat dicegah.

4.    Tidak adanya upaya untuk menghargai puing-puing hasil pengahancuran makna karena makna-makna baru dianggap lebih bernilai. Padahal, makna-makna lama bukan tidak mungkin justru memberi nilai tambah abgi makna-makna baru.

Karena itu, diperlukan sebuah model semiotika baru untuk menjawab kekurangan-kekurangan tersebut.

BAB III Penutup

3.1 Kesimpulan

Dari pembahsan diatas penulis menyimpulkan bahwa dekonstruksi merupakan metode pembacaan teks. Dengan dekonstruksi ditunjukkan bahwa dalam setiap teks selalu hadir anggapan-anggapan yang dianggap absolut. Padahal, setiap anggapan selalu kontekstual: anggapan selalu hadir sebagai konstruksi sosial yang menyejarah. Maksudnya, anggapan-anggapan tersebut tidak mengacu kepada makna final. Anggapan-anggapan tersebut hadir sebagai jejak (trace) yang bisa dirunut pembentukannya dalam sejarah.

Aliran dekonsruksi lahir di Perancis sekitar tahun 1960-an, yang kemudian berpengaruh besar di Amerika sekitar tahun 1970-an hingga pada tahun 1980-an. Tokoh terpenting dekonstruksi adalah Jacques Derrida, seorang Yahudi Aljazair yang kemudian menjadi ahli filsafat dan kritik sastra di Perancis. Tokoh lainnya yaitu Nietzsche, Paul de Man, J.Hillis Miller, Geoffery Hartman, Harold Bloom.

Prinsip dekonstruksi yaitu melacak unsur-unsur aporia (makna paradoks, makna kontradiktif, dan makna ironi) dan Membalikkan atau merubah makna-makna yang sudah dikonvensionalkan. Metode dekonstruksi yang dilakukan Derrida lebih dikenal dengan istilah dekonstruksi metaforik. Metafora di sini bukan dipahami sebagai suatu aspek dari fungsi ekspresif bahasa tapi sebagai suatu kondisi yang esensial tentang tuturan. Dekonstruksi mentut kita lebih teliti dan kritis terhadap teks sastra.

 

3.2 Saran

Penulis menyarankan kepada pembaca untuk menggunakan metode dekonstruksi ini juga dalam membaca teks sastra agar kita bisa menemukan fakta lain dari pendapat atau anggapan umum atau bahkan telah dikonvensionalkan. Dengan demikian kita bisa menjadi pembaca yang kritis atau lebih kritis terhadap teks sastra.

Selain itu penulis juga menyarankan pembaca untuk tidak merasa puas terhadap makalah dekonstruksi yang penulis sajikan ini dan tetap mencari sumber lain tentang dekonstruksi untuk menambah wawasan pembaca, karna tidak semua tentang dekonstruksi yang bisa penulis rangkum dalam makalah ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar